Stop Destroying Our Planet

No Comments »



Sumber foto : berita.suaramerdeka.com 

Pernahkah anda merasa bahwa bumi semakin hari terasa semakin panas? Atau pernahkah anda berpikir bahwa mengapa cuaca bisa berubah dengan begitu ekstrim? Jika anda pernah berpikir mengenai hal tersebut maka anda sudah sedikit menyadari apa yang disebut sebagai global warming.

Jadi sebenarnya apa yang dimaksud dengan global warming? Global warming adalah pemanasan global, dimana meningkatnya temperatur pada lapisan atmosfer yang ada di permukaan bumi. Pemanasan global ini terjadi akibat dari gas rumah kaca yang dihasilkan oleh manusia sendiri.

Secara tidak sadar, dampak dari global warming ini sudah  mulai menghancurkan kehidupan kita secara perlahan-lahan. Akibat yang terlihat saat ini adalah iklim yang tidak stabil, meningkatnya permukaan laut, suhu global, serta gangguan ekologis.

Menurut ilmuwan, ada bencana-bencana besar yang sedang menunggu kita karena global warming ini yaitu pulau yang kita tinggali akan tenggelam, bahkan terdapat beberapa pulau di dunia sudah punah ditelan. Pulau Jawa termasuk salah satu pulau yang akan bernasib sama, diperkirakan akan terendem pada tahun 2020 apabila suhu bumi terus naik.

Banyak orang yang berpendapat bahwa, seharusnya pemerintahlah yang harus berusaha untuk mengatasi pemanasan global ini. Mereka berpikir bahwa pemanasan global tidak ada kaitannya dengan mereka, sehingga mereka tidak harus melakukan tindakan apapun.

Sebenarnya pemikiran tersebut adalah suatu kesalahan besar. Masyarakat juga memiliki andil yang besar dalam pemanasan global ini. Manusialah yang merusak bumi ini, menciptakan sampah dan membakarnya, menggunakan listrik dengan boros, membakar hutan. Bayangkan apabila pemanasan global sudah mencapai puncaknya, maka apakah manusia masih bisa bertahan hidup?

Tentu saja tidak. Oleh sebab itu, maka masyarakat seharusnya waspada, dan mulai melakukan tindakan dengan merawat bumi dengan baik, seperti melakukan penghijauan, mengurangi sampah yang tidak bisa dihancurkan, dan melestarikan hutan dengan tidak melakukan penebangan pohon secara liar.

Penghijauan akan sangat mudah dilakukan, apabila adanya niat dari setiap individu. Banyak yang berpendapat bahwa apalah arti dari menanam sebuah pohon, mereka bahkan tidak menyadari bahwa sebatang pohon dapat menyerap karbondioksida (CO2) 14 Kg/Tahun dari polusi udara yang dihasilkan dari pabrik dan kendaraan bermotor.

Meskipun terdapat banyaknya orang yang tidak peduli terhadap kondisi bumi yang sudah semakin tua ini, namun diluar sana masih juga terdapat orang-orang yang dengan sukarela mengeluarkan tangannya untuk menyelamatkan bumi.

Mereka mengeluarkan tenaga, uang, bahkan keringat secara cuma-cuma untuk menyelamatkan kehidupan ini yang adalah kehidupan kamu juga. Oleh sebab itu, janganlah hanya memandang, janganlah bersikap acuh. Take action! Kamu bahkan dapat memulainya dengan melakukan hal kecil. Kurangi penggunaan plastik, jangan buang sampah sembarangan, jagalah bumi kita bersama.

Stand Up and Take Action, Selamatkan Bumi Bersama

No Comments »


Hari bumi adalah hari yang ditentukan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali oleh manusia, biasanya hari bumi diperingati tanggal 22 April. Sampai saat ini, hari Bumi sudah diperingati lebih dari 176 negara.

Hari Bumi ini terbentuk dikarenakan Bumi telah menunjukkan tanda-tanda mulai dirusak. Meskipun pencemaran lingkungan sudah terjadi sejak dahulu, namun hal tersebut terus menerus meningkat seiring berjalannya waktu dan pertumbuhan jumlah penduduk.

Manusia adalah pelaku utama yang harus bertanggungjawab atas terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan, dari penebangan dan pembakaran hutan secara ilegal, pencemaran air, pabrik kimia, serta polusi udara.

Tindakan-tindakan dari manusia semakin tidak terkendali, bahkan kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa tidakan mereka sendiri tidak hanya akan menyakiti Bumi, namun manusia sendiri juga akan terkena dampak dari perusakan tersebut.

Dapat dikatakan, bumi sudah memberikan berbagai peringatan kepada manusia melalui bencana-bencana yang telah terjadi, seperti tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi serta banjir.

Banjir adalah bencana yang terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi dengan tidak diimbangi oleh saluran pembuangan air yang memadai sehingga merendam berbagai wilayah. Bencana banjir sendiri sudah rentan terjadi di Indonesia, bahkan sudah menjadi bencana yang rutin terjadi di Ibu Kota Jakarta.

Ketika bencana sudah terjadi, manusia akan berbondong-bondong untuk saling menyalahkan, melemparkan tanggungjawab atas kejadian tersebut. Di Indonesia, hal tersebut sudah menjadi kasus yang akan terjadi setiap awal tahun. Masyarakat akan kembali menyalahkan pemerintah yang tidak  becus dalam melakukan pencegahan ketika sudah banjir.

Padahal apabila dilihat lebih jauh, penyebab terjadinya banjir dikarenakan pembuangan sampah sembarangan yang menyebabkan macetnya aliran sungai, penebangan hutan secara liar yang tanpa disertai reboisasi, pedangkalan sungai, bahkan pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat.

Banjir sendiri dapat dicegah apabila masyarakat Indonesia tidak membuang sampah sembarangan. Namun sampai saat ini mengapa banjir masih tetap terjadi? Dan mengapa masyarakat masih tetap membuang sampah sembarangan?

Tentunya agar masyarakat Indonesia tidak membuang sampah sembarangan maka dibutuhkan kesadaran diri. Namun sangat disayangkan, kesadaran dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kebersihan lingkungan masih sangat rendah.

Bahkan hal terkecil pun, masih dapat dilihat bahwa terdapat masyarakat yang memilih untuk membuang sampahnya kejalanan, padahal telah disediakan tempat sampah dimana-mana. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebiasaan untuk membuang sampah di tempat sampah masih belum terbentuk. Oleh karena itu, program edukasi harus dilakukan sejak dini.

Meskipun masyarakat Indonesia belum dapat sepenuhnya menciptakan lingkungan yang bersih, namun Indonesia sendiri sudah termasuk sebagai salah satu negara yang ikut berpartisipasi dalam memperingati hari bumi setiap tahunnya.

Dalam memperingati hari Bumi, Greenie Earth juga ikut berpartisipasi dengan mengadakan acara seminar yang bertema “Earth Focus for the Future”. Tujuan dari acara seminar ini adalah sebagai salah satu bentuk perhatian dan sosialisasi kepedulian terhadap lingkungan, dan diharapkan dengan diselenggarakan seminar ini maka akan mengedukasi mahasiswa-mahasiswa mengenai kesadaran lingkungan.

Dalam seminar tersebut mendatangkan dua narasumber yaitu Ir. R. Sudirman, MM selaku direktur pengelolaan sampah kementeriaan lingkungan hidup dan kehutanan, dan Denok Marty Astuti, S.E selaku direktur PT Cipta Hijau Indonesia yang juga merupakan pendiri GROPESH (gerakan orang muda peduli sampah & lingkungan hidup).

Sudirman menjelaskan kondisi terkini yang terjadi yaitu estimasi timbulan sampah per orang perhari adalah 0,7 kg, sedangkan dengan jumlah penduduk 250 juta orang, maka timbulan sampah perharinya adalah 175.000 ton yang dihasilkan dengan komposisi 60% organik, 14% sampah plastik 9% sampah kertas 17% sampah lainnya.

Sampah adalah salah satu penyumbang gas rumah kaca dalam bentuk metana (CH4) dan karbondioksida (CO2), dalam data IPCC tahun 2005 menunjukkan bahwa 3% dari emisi gas rumah kaca secara global berasal dari sektor sampah. Diperkirakan 1 ton sampah dapat menghasilkan 50kg gas metana.

Dari penjelasan tersebut tidak hanya lagi mengenai masyarakat yang tidak bisa membuang sampah pada tempatnya, namun mengenai bahayanya sampah yang belum bisa dikelola dengan baik, serta masyarakat yang masih giat menghasilkan sampah.

Bayangkan bahwa pada umumnya sampah yang bisa didaur ulang hanya senilai 7,5% dari 175.000 ton perharinya, sedangkan sisanya masih bergantung pada penimbunan sampah dan pembakaran serta penguburan.

Apabila masyarakat masih belum mengerti cara membuang sampah  dengan benar , maka 7,5% yang bisa didaur ulang tersebut akan semakin berkurang.

Oleh karena itu, pendiri GROPESH, Denok Marty menjelaskan tentang bagaimana cara membuang sampah yang benar berdasarkan penggolongannya, yaitu sampah organik yang bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang, serta sampah non-organik yang bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang.

Denok Marty juga mengatakan bahwa di negara Jepang, terdapat recycle khusus bagi tuna netra, dimana cara membuang sampah dapat diraba melalui lubang tempat sampah yang berbeda bentuknya.
Apabila masyarakat tuna netra Jepang sudah begitu peduli terhadap lingkungan hidup, lalu mengapa masyarakat Indonesia yang tidak menyandang disabilitas masih belum bisa membuang sampah pada tempatnya.

“Jangan salahkan orang lain atas kerusakan bumi, jangan menunggu orang lain untuk bertindak, stand up and take action.”

Greenie Earth Tanam 1000 Pohon di Muara Angke

No Comments »


Sumber foto :  http://www.tzuchi.or.id


Jakarta –Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Greenie Earth kembali melakukan gerakan penghijauan dengan menanam sebanyak 1000 pohon di kawasan Muara Angke pada hari minggu (15/05/2016). Dalam kegiatan penghijauan ini, Greenie Earth juga bekerja sama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi.

Dari 1000 pohon tersebut, terdiri dari 800 pohon jenis Mangrove, 100 pohon jenis Ketapang dan 100 jenis pohon Pandan Pantai yang ditanam disekitar pesisir pantai Muara Angke.

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 100 orang, di acara penanaman pohon tersebut, tidak hanya diikuti oleh anggota Greenie Earth dan relawan Tzu Chi. Namun juga terlihat masyarakat yang ikut berpartisipasi.

Tujuan penanaman pohon Mangrove dikarenakan mangrove dapat berfungsi sebagai pencegah dan penyaring alami, dimana hutan Mangrove biasanya dipenuhi akar pohon bakau dan berlumpur. Akar tersebut dapat mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa kewilayah pantai. Selain pengurai limbah organik, hutan Mangrove juga dapat membantu mempercepat proses penguraian bahan kimia yang mencemari laut.

Kepala organisasi Greenie Earth mengatakan bahwa sebelumnya Greenie Earth juga sudah menanam pohon di berbagai wilayah seperti di Cibubur, Pulau Pramuka, Singkawang, dan Lombok. Dan untuk seterusnya mereka juga akan terus mengembangkan aktivitas penghijauan tersebut.

“Untuk projek selanjutkan, kami berencana akan menanam pohon di daerah Purwakarta, selain penghijauan kami juga berencana untuk melakukan beberapa kegiatan seminar, dimana seminar ini kita akan mengangkat topik mengenai sampah-sampah yang ada di sekitar kita, kita semua sangat berharap masyarakat bisa memelihara tanaman yang sudah ditanam, dan tidak membuang sampah sembarangan,”- ujar Antonius.

Salah satu anggota Tzu Chi, Yuli mengatakan dia sangat senang dapat ikut berpartisipasi dalam gerakan penghijauan ini. Menurut Yuli, kegiatan menanam pohon ini tidak akan cukup apabila diluar sana masih banyak orang yang sedang menebang pohon sembarangan.

“Mereka tidak sadar betapa pentingnya pohon bagi kita, apabila pohon-pohon ditebang sembarangan maka akan berdampak pada pemanasan global, oksigen akan semakin menipis, satwa liar akan kehilangan tempat tinggal, dari itu maka ekosistem akan terganggu nanti.”- kata Yuli.