Hari bumi adalah hari yang ditentukan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali oleh manusia, biasanya hari bumi diperingati tanggal 22 April. Sampai saat ini, hari Bumi sudah diperingati lebih dari 176 negara.
Hari Bumi ini terbentuk dikarenakan Bumi telah
menunjukkan tanda-tanda mulai dirusak. Meskipun pencemaran lingkungan sudah
terjadi sejak dahulu, namun hal tersebut terus menerus meningkat seiring
berjalannya waktu dan pertumbuhan jumlah penduduk.
Manusia adalah pelaku utama yang harus
bertanggungjawab atas terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan, dari
penebangan dan pembakaran hutan secara ilegal, pencemaran air, pabrik kimia,
serta polusi udara.
Tindakan-tindakan dari manusia semakin tidak
terkendali, bahkan kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa tidakan mereka
sendiri tidak hanya akan menyakiti Bumi, namun manusia sendiri juga akan
terkena dampak dari perusakan tersebut.
Dapat dikatakan, bumi sudah memberikan berbagai
peringatan kepada manusia melalui bencana-bencana yang telah terjadi, seperti
tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi serta banjir.
Banjir adalah bencana yang terjadi akibat curah
hujan yang sangat tinggi dengan tidak diimbangi oleh saluran pembuangan air
yang memadai sehingga merendam berbagai wilayah. Bencana banjir sendiri sudah
rentan terjadi di Indonesia, bahkan sudah menjadi bencana yang rutin terjadi di
Ibu Kota Jakarta.
Ketika bencana sudah terjadi, manusia akan
berbondong-bondong untuk saling menyalahkan, melemparkan tanggungjawab atas
kejadian tersebut. Di Indonesia, hal tersebut sudah menjadi kasus yang akan
terjadi setiap awal tahun. Masyarakat akan kembali menyalahkan pemerintah yang
tidak becus dalam melakukan pencegahan
ketika sudah banjir.
Padahal apabila dilihat lebih jauh, penyebab
terjadinya banjir dikarenakan pembuangan sampah sembarangan yang menyebabkan
macetnya aliran sungai, penebangan hutan secara liar yang tanpa disertai
reboisasi, pedangkalan sungai, bahkan pembuatan saluran air yang tidak memenuhi
syarat.
Banjir sendiri dapat dicegah apabila masyarakat
Indonesia tidak membuang sampah sembarangan. Namun sampai saat ini mengapa
banjir masih tetap terjadi? Dan mengapa masyarakat masih tetap membuang sampah
sembarangan?
Tentunya agar masyarakat Indonesia tidak membuang
sampah sembarangan maka dibutuhkan kesadaran diri. Namun sangat disayangkan,
kesadaran dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kebersihan lingkungan
masih sangat rendah.
Bahkan hal terkecil pun, masih dapat dilihat bahwa
terdapat masyarakat yang memilih untuk membuang sampahnya kejalanan, padahal
telah disediakan tempat sampah dimana-mana. Sehingga dapat dikatakan bahwa
kebiasaan untuk membuang sampah di tempat sampah masih belum terbentuk. Oleh
karena itu, program edukasi harus dilakukan sejak dini.
Meskipun masyarakat Indonesia belum dapat sepenuhnya
menciptakan lingkungan yang bersih, namun Indonesia sendiri sudah termasuk
sebagai salah satu negara yang ikut berpartisipasi dalam memperingati hari bumi
setiap tahunnya.
Dalam memperingati hari Bumi, Greenie Earth juga
ikut berpartisipasi dengan mengadakan acara seminar yang bertema “Earth Focus
for the Future”. Tujuan dari acara seminar ini adalah sebagai salah satu bentuk
perhatian dan sosialisasi kepedulian terhadap lingkungan, dan diharapkan dengan
diselenggarakan seminar ini maka akan mengedukasi mahasiswa-mahasiswa mengenai
kesadaran lingkungan.
Dalam seminar tersebut mendatangkan dua narasumber yaitu Ir.
R. Sudirman, MM selaku direktur
pengelolaan sampah kementeriaan lingkungan hidup dan kehutanan, dan Denok Marty
Astuti, S.E selaku direktur PT Cipta Hijau Indonesia yang juga merupakan
pendiri GROPESH (gerakan orang muda peduli sampah & lingkungan hidup).
Sudirman menjelaskan kondisi terkini yang terjadi
yaitu estimasi timbulan sampah per orang perhari adalah 0,7 kg, sedangkan
dengan jumlah penduduk 250 juta orang, maka timbulan sampah perharinya adalah
175.000 ton yang dihasilkan dengan komposisi 60% organik, 14% sampah plastik 9%
sampah kertas 17% sampah lainnya.
Sampah adalah salah satu penyumbang gas rumah kaca
dalam bentuk metana (CH4) dan karbondioksida (CO2), dalam data IPCC tahun 2005
menunjukkan bahwa 3% dari emisi gas rumah kaca secara global berasal dari
sektor sampah. Diperkirakan 1 ton sampah dapat menghasilkan 50kg gas metana.
Dari penjelasan tersebut tidak hanya lagi mengenai
masyarakat yang tidak bisa membuang sampah pada tempatnya, namun mengenai
bahayanya sampah yang belum bisa dikelola dengan baik, serta masyarakat yang
masih giat menghasilkan sampah.
Bayangkan bahwa pada umumnya sampah yang bisa didaur
ulang hanya senilai 7,5% dari 175.000 ton perharinya, sedangkan sisanya masih
bergantung pada penimbunan sampah dan pembakaran serta penguburan.
Apabila masyarakat masih belum mengerti cara
membuang sampah dengan benar , maka 7,5%
yang bisa didaur ulang tersebut akan semakin berkurang.
Oleh karena itu, pendiri GROPESH, Denok Marty
menjelaskan tentang bagaimana cara membuang sampah yang benar berdasarkan
penggolongannya, yaitu sampah organik yang bisa didaur ulang dan tidak bisa
didaur ulang, serta sampah non-organik yang bisa didaur ulang dan tidak bisa
didaur ulang.
Denok Marty juga mengatakan bahwa di negara Jepang,
terdapat recycle khusus bagi tuna netra, dimana cara membuang sampah dapat
diraba melalui lubang tempat sampah yang berbeda bentuknya.
Apabila masyarakat tuna netra Jepang sudah begitu
peduli terhadap lingkungan hidup, lalu mengapa masyarakat Indonesia yang tidak
menyandang disabilitas masih belum bisa membuang sampah pada tempatnya.
“Jangan salahkan orang lain atas kerusakan bumi,
jangan menunggu orang lain untuk bertindak, stand up and take action.”
